“But there's a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother's story, because hers is where yours begin.”
― Mitch Albom, For One More Day
, ' use it up, wear it out, make it do or do without' yang kira-kira artinya 'gunakan sampai habis, pakailah sampai usang, gunakan apa yang ada, kalau tidak punya jangan mengada-ada'.
"Parents, they didn't leave you when you were young, so don't leave them when they are old" (Orangtua. Mereka tidak meninggalkan ketika Anda masih muda. Jadi jangan pernah meninggalkan mereka saat mereka tua) -- inilah salah satu kutipan yang saya temukan di media sosial.
Sebuah kutipan yang menyentuh hati, namun izinkan saya sedikit nyeleneh dengan menggunakan logika terbalik dari kutipan tersebut. Jika, orangtua tidak meninggalkan Anda saat Anda masih muda, maka Anda tak boleh meninggalkannya saat mereka tua. Lalu, bagaimana jika saat muda, Anda ditinggal? Bagaimana jika saat masih kecil, Anda lebih sering menghabiskan waktu bersama nenek-kakek, babysitter ketimbang orangtua? Anda harus lebih berbakti kepada mereka yang hadir bersama Anda atau Anda harus tetap mengutamakan orangtua? Padahal mereka lebih mengutamakan pekerjaannya dan pergaulannya.
Atau, bagaimana jika Anda anak yang bersama terus dengan orangtua, namun tak diberikan perhatian yang cukup? Apakah orangtua kerap mengomel saat nilai Anda jelek, namun tak pernah mau menemani belajar?
Lalu masihkah kita, sebagai anak, perlu berbakti? Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengikuti cuitan dari akun @duniakanak. Isinya cukup bagus, sebagai pengingat untuk kita semua, para orangtua. Begini:
tahukah Anda apa musuh terbesar dalam mendidik anak? Apakah internet? Apakah televisi? Ataukah lingkungan pergaulan?
Musuh terbesar Anda dalam mendidik anak justru ada pada diri Anda sendiri. Satu sifat yang disebut malas. Malas mematikan handphone saat bermain bersama anak, namun tetap berharap anak lebih dekat dengan Anda dibanding dengan teman-temannya. Malas mendengar tangisan saat anak dilarang, tapi malah terus menuntut anak untuk patuh dan mempercayai Anda. Malas mendengar isi hati anak, Anda malah terus menerus menceramahi anak.
Malas memberikan pengaruh pada anak dengan cara mengobrol setiap hari, tapi tetap berharap anak tidak terpengaruh oleh buruknya lingkungan pergaulan. Malas melihat perilaku anak yang kadang membuat rumah menjadi acak-acakan, tapi justru berharap kelak anak menjadi dewasa yang smart dan jujur. Malas mengajarkan isi kitab suci pada anak, tapi berharap kelak anak menjadi dewasa yang mencintai dan teguh pada agamanya. Malas mendampingi anak belajar, namun menginginkan kelak anak menjadi dewasa yang smart dan jujur. Tertohokkah Anda? Semoga jawabannya iya. Dan mulailah berubah.
Ya, aturan kesopanan, norma dan agama menganjurkan kita untuk selalu berbakti pada orangtua, kapanpun, dimanapun, dan seperti apapun orangtua kita. Ya, meski mereka tak selalu ada, kita harus tetap mengupayakan untuk ada bagi mereka. Namun kini, setelah kita menjadi orangtua, tak ada salahnya untuk melakukan segalanya yang terbaik bagi anak.
Setidaknya nanti saat mereka dewasa, kita tidak membuat mereka berbakti pada kita demi memenuhi aturan norma dan agama semata. Tetapi karena mereka benar-benar ingin melakukannya, karena mereka mencintai kita sebagaimana kita mencintai mereka. Mereka ingin selalu ada untuk kita, karena kita, selalu ada untuk mereka. Pasti rasanya akan lebih menyenangkan, bukan?
Artikel mb' yasmina hasni benar-benar menggetarkan hati miumi, sebagai orang tua terkadang tidak sadar kita yang menciptakan dendam dan ada saatnya anak bisa membalasnya tanpa kita sadari.















