Ummu Sulaim, si Cerdas
yang Dijamin Surga
admin | 06/04/2012 | 0 Komentar
Akhwatmuslimah.com – Ia
seorang wanita keturunan
bangsawan dari kabilah Anshar
suku Khazraj memiliki sifat
keibuan dan berwajah manis
menawan. Selain itu ia juga
berotak cerdas penuh kehati-
hatian dalam bersikap, dewasa
dan berakhlak mulia, sehingga
dengan sifat-sifatnya yang
istimewa itulah pamannya yang
bernama Malik bin Nadhar
melirik dan mempersuntingnya.
Rumaisha Ummu Sulaim binti
Milhan bin Khalid bin Zaid bin
Malik adalah satu dari wanita
saliha yang memiliki kedudukan
istimewa di mata Rasulullah.
Pada saat Rasululllah
menyerukan dakwah menuju
tauhid, tanpa keraguan lagi
Ummu Sulaim langsung memeluk
agama Islam, dan tidak peduli
akan gangguan dan rintangan
yang kelak akan dihadapinya dari
masyarakat jahili paganis.
Namun suaminya, Malik bin
Nadhir sangat marah saat
mengetahui istrinya telah masuk
Islam. Dengan dada gemuruh
karena emosi, ia berkata pada
Ummu Sulaim: “Engkau kini telah
terperangkap dalam
kemurtadan!”�
“Saya tidak murtad. Justru saya
kini telah beriman,” jawab Ummu
Sulaim dengan mantap. Dan
kesungguhan Ummu Sulaim
memeluk agama Allah tidak
hanya sampai di situ. Ia juga
tanpa bosan berusaha melatih
anaknya, Anas, yang masih kecil
untuk mengucapkan dua kalimat
syahadat.
Melihat kesungguhan istrinya
serta pendiriannya yang tak
mungkin tergoyahkan membuat
Malik bin Nadhir bosan dan tak
mampu mengendalikan
amarahnya. Hingga ia kemudian
bertekad untuk meninggalkan
rumah dan tidak akan kembali
sampai istrinya mau kembali
kepada agama nenek moyang
mereka. Ia pun pergi dengan
wajah suram. Sayangnya, di
tengah jalan ia bertemu dengan
musuhnya, kemudian ia
dibunuh..
Saat mendengar kabar kematian
suaminya dengan ketabahan
yang mengagumkan ia berkata,
“Saya akan tetap menyusui Anas
sampai ia tak mau menyusu lagi,
dan sekali-kali saya tak ingin
menikah lagi sampai Anas
menyuruhku.”
Setelah Anas agak besar, Ummu
Sulaim dengan malu-malu
mendatangi Rasulullah dan
meminta agar beliau bersedia
menerima Anas sebagai
pembantunya. Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam pun
menerima Anas dengan rasa
gembira. Dan dari semua
keputusannya itu, Ummu Sualim
kemudian banyak dibicarakan
orang dengan rasa kagum.
Dan seorang bangsawan
bernama Abu Thalhah tak luput
memperhatikan hal itu. Dengan
rasa cinta dan kagum yang tak
dapat disembunyikan tanpa
banyak pertimbangan ia
langsung melangkahkan kakinya
ke rumah Ummu Sulaim untuk
melamarnya dan menawarkan
mahar yang mahal. Namun di
luar dugaan, jawaban Ummu
Sulaim membuat lidahnya
menjadi kelu dan rasa
kecewanya begitu menyesakkan
dada, meski Ummu Sulaim
berkata dengan sopan dan rasa
hormat,
“Tidak selayaknya saya menikah
dengan seorang musyrik,
ketahuilah wahai Abu Thalhah
bahwa sesembahanmu selama ini
hanyalah sebuah patung yang
dipahat oleh keluarga fulan. Dan
apabila engkau mau menyulutnya
api niscaya akan membakar dan
menghanguskan patung-patung
itu.”
Perkataan Ummu Sulaim amat
telak menghantam dadanya. Abu
Thalhah tak percaya dengan apa
yang ia lihat dan ia dengar.
Namun itu semua merupakan
realita yang harus ia terima. Abu
Thalhah bukanlah orang yang
cepat putus asa. Dikarenakan
cintanya yang tulus dan
mendalam terhadap Ummu
Sulaim, di lain kesempatan ia
datang lagi menjumpai ibunda
Anas dan mengiming-iming
mahar yang lebih wah serta
kehidupan kelas atas.
Sekali lagi, Ummu Sulaim
muslimah yag cerdik dan pintar
ini tetap teguh dengan
keimanannya. Sedikit pun ia
tidak tergoda oleh kenikmatan
dunia yag dijanjikan oleh Abu
Thalhah. Baginya kenikmatan
Islam akan lebih langgeng
daripada seluruh kenikmatan
dunia. Masih dengan
penolakanya yang halus ia
menjawab , “Sesungguhnya saya
tidak pantas menolak orang yang
seperti engkau, wahai Abu
Thalhah. Hanya sayang engkau
seorang kafir dan saya seorang
muslimah. Maka tak pantas
bagiku menikah denganmu. Coba
Anda tebak apa keinginan saya?”
âEngkau menginginkan dinar
dan kenikmatan,â� kata Abu
Thalhah. “Sedikitpun saya tidak
menginginkan dinar dan
kenikmatan. Yang saya inginkan
hanya engkau segera memeluk
agama Islam,”� tukas Ummu
Sualim tandas.
“Tetapi saya tidak mengerti siapa
yang akan menjadi
pembimbingku?”� Tanya Abu
Thalhah. “Tentu saja
pembimbingmu adalah Rasululah
sendiri,”� tegas Ummu Sulaim.
Maka Abu Thalhah pun bergegas
pergi menjumpai Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam
yang mana saat itu tengah
duduk bersama para sahabatnya.
Melihat kedatangan Abu Thalhah,
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam berseru, “Abu Thalhah
telah datang kepada kalian, dan
cahaya Islam tampak pada kedua
bola matanya.”
Ketulusan hati Ummu Sulaim
benar-benar terasa mengharukan
relung-relung hati Abu Thalhah.
Ummu Sulaim hanya akan mau
dinikahi dengan keislamannya
tanpa sedikitpun tegiur oleh
kenikmatan yang dia janjikan.
Wanita mana lagi yang lebih
pantas menjadi istri dan ibu
asuh anak-anaknya selain Ummu
Sulaim? Hingga tanpa terasa di
hadapan Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam lisan Abu
Thalhah basah mengulang-ulang
kalimat, “Saya mengikuti ajaran
Anda, wahai Rasulullah. Saya
bersaksi, bahwa tidak ada ilah
yang berhak diibadahi kecuali
Allah dan saya bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusanNya.”
Ummu Sulaim tersenyum haru
dan berpaling kepada anaknya
Ana, “Bangunlah wahai Anas.”
Menikahlah Ummu Sulaim
dengan Abu Thalhah, sedangkan
maharnya adalah keislaman
suaminya. Hingga Tsabit -
seorang perawi hadits-
meriwayatkan dari Anas, “Sama
sekali aku belum pernah
mendengar seorang wanita yang
maharnya lebih mulia dari Ummu
Sulaim, yaitu keislaman
suaminya.” Selanjutnya mereka
menjalani kehidupan rumah
tangga yang damai dan sejahtera
dalam naungan cahaya Islam.
Abu Thalhah sendiri adalah
seorang konglomerat nomor satu
dari kabilah Anshar. Dan harta
yang paling dia cintai yaitu tanah
perkebunan “Bairuha”�. Tanah
perkebunan itu letaknya persis
menghadap masjid. Dan
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri pernah minum air
segar yang ada di lokasi itu,
sampai kemudian turun ayat
yang berbunyi:
“Sekali-kali belum sampai pada
kebaktian yang sempurna
sebelum kamu menafkahkan
sebagian harta yang kamu
cintai.” (Ali Imran:92)
Mendengar ayat ini, kontan Abu
Thalhah menghadap Rasulullah.
Setelah membacakan ayat tadi
Abu Thalhah melanjutkan, “Dan
sesungguhnya harta yang paling
saya cintai adalah tanah
perkebunan Bairuha. Saat ini
tanah itu saya sedekahkan untuk
Allah dengan harapan akan
mendapatkan ganjaran kebaikan
dari Allah kelak. Maka
pergunakanlah sekehendak Anda,
wahai Rasulullah.”
Dan bersabdalah Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wasallam,
“Bakh, bakh itu adalah harta
yang menguntungkan dan saya
telah mendengar perkataanmu
tentang harta itu dan saya
sekarang berpendapat sebaiknya
engkau bagi-bagikan tanah itu
untuk keluarga kalian.”
Abu Thalhah pun menuruti
perintah Rasululah dan
membagi-bagikan tanah itu
kepada sanak familinya dan anak
keturunan pamannya. Tak berapa
lama Alah memuliakan seorang
anak laki-laki kepada pasangan
berbahagia itu dan diberi nama
Abu Umair. Suatu kali burung
kesayangan Abu Umair mati
sehingga Abu Umair menangis
dengan sedih. Saat itu lewatlah
Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wasallam di hadapannya. Melihat
kesedihan Abu Umair, Rasulullah
segera menghibur dan bertanya,
“Wahai Abu Umair apa gerangan
yang diperbuat oleh burung
kecil?”
Namun takdir Allah memang tak
mampu diduga. Allah subhanahu
wa ta’ala kembali ingin menguji
kesabaran pasangan sabar ini.
Tiba-tiba saja, bocah mungil
mereka Abu Umair jatuh sakit
sehingga ayah dan ibunya dibuat
cemas dan repot. Padahal ia
adalah putra kesayangan Abu
Thalhah. Jika ia pulang dari
pasar, yang pertama kali
ditanyakan adalah kesehatan dan
keadaan putranya dan ia belum
mereasa tenang bila belum
melihatnya. Tepat pada waktu
sholat, Abu Thalhah pergi ke
masjid. Tak lama setelah
kepergiannya, putranya Abu
Umair menghembuskan nafas
terakhir.
Ummu Sulaim memang seorang
ibu mukminah yang sabar. Ia
menerima peristiwa itu dengan
sabar dan tenang. Ummu Sulaim
lantas menidurkan putranya di
atas kasur dan berujar berulang-
ulang, “Innaa lillahi wa inna
ilaihi rrji’un.” Dengan suara
berbisik ia berkata kepada sanak
keluarganya, “Jangan sekali-kali
kalian memberitahukan perihal
putranya pada Abu Thalhah
sampai aku sendiri yang
memberitahunya.”
Sekembalinya Abu Thalhah,
alhamdulillah, air mata
kesayangan Ummu Sulaim telah
mongering. Ia menyambut
kedatangan suaminya dan siap
menjawab pertanyaannya.
“Bagaimana keadaan putraku
sekarang?”�
“Dia lebih tenang dari biasanya.”
Jawab Ummu Sulaim dengan
wajar.
Abu Thalhah merasa begitu letih
hingga tak ada keinginan
menengok putranya. Namun
hatinya turut berbunga-bunga
mengira putranya dalam keadaan
sehat wal afiat. Ummu Sulaim
pun menjamu suaminya dengan
hidangan yang istimewa dan
berdandan serta berhias dengan
wangi-wangian, membuat Abu
Thalhah tertarik dan
mengajaknya tidur bersama.
Setelah suaminya terlelap, Ummu
Sulaim memuji kepada Allah
karena berhasil menentramkan
suaminya perihal putranya,
karena ia menyadari Abu Thalhah
telah mengalami keletihan
seharian, sehingga ia
amembiarkan suaminya tertidur
pulas.
Menjelang subuh, baru Ummu
Sulaim berbicara pada suaminya,
seraya bertanya, “Wahai Abu
Thalhah apa pendapatmu bila
ada sekelompok orang
meminjamkan barang kepada
tetangganya lantas ia meminta
kembali haknya. Pantaskan jika
si peminjam enggan
mengembalikannya?”
“Tidak,” jawab Abu Thalhah.
“Bagaimana jika si peminjam
enggan mengembalikannya
setelah menggunakannya?”
” Wah, mereka benar-benar tidak
waras,”� Abu Thalhah menukas.
“Demikian pula putramu. Allah
meminjamkannya pada kita dan
pemiliknya telah mengambilnya
kembali. Relakanlah ia,” kata
Ummu Sulaim dengan tenang.
Pada mulanya Abu Thalhah
marah dan membentak, “Kenapa
baru sekarang kau beritahu, dan
membiarkan aku hingga aku
ternoda (berhadats karena
berhubungan suami istri)?”
Dengan rasa tabah Ummu Sulaim
tak henti-henti mengingatkan
suaminya hingga ia kembali
istirja dan memuji Allah dengan
hati yang tenang.
Pagi-pagi buta sebelum cahaya
matahari kelihatan penuh, Abu
Thalhah menjumpai Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam dan
menceritakan kejadian itu.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam pun bersabda, “Semoga
Allah subhanahu wa ta’ala
memberikan barakah pada malam
pengantin kalian berdua.”
Benar saja Ummu Sulaim lantas
mengandung lagi dan melahirkan
seorang anak yang diberi nama
Abdullah bin Thalhah oleh
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam. Dan subhanallah
barakahnya ternyata tak hanya
sampai di situ. Abdullah kelak di
kemudian hari memiliki tujuh
orang putra yang semuanya
hafizhul Qur’an. Keutamaan
Ummu Sulaim tidak hanya itu,
Allah subhanahu wa ta’ala juga
pernah menurunkan ayat untuk
pasangan suami istri itu
dikarenakan suatu peristiwa.
Sampai Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam
menggembirakannya dengan janji
surga dalam sabdanya
“Aku memasuki surga dan aku
mendengar jalannya seseorang.
Lantas aku bertanya “Siapakah
ini?”� Penghuni surga spontan
menjawab “Ini adalah Rumaisha
binti Milhan, ibu Anas bin
Malik.”�
Selamat untukmu Ibunda Anas!
Sumber: Elfata edisi 12/III/200
Semoga bisa menjadi panutan para istri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar