Selasa, 24 Juli 2018

Kakak masuk SD

Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillah kakak masuk SD setelah dilema antara kekhawatiran miumi masih TK lagi atau lanjut SD dengan mantab kakak bilang mau SD. Kenapa miumi khawatir mungkin secara mental yang miumi lihat kakak itu masih susah mengerti arti membela diri, kadang belum dewasa secara umur (bahasa pekalongannya belum ndolor hehehe) padaasrnya kakak anak yang baik agak pendiem pula jadi mungkin miumi takut kakak kena bullyan, kalau soal dapat tidaknya mengikuti pelajaran  sebenarnya kakak anak pintar karena super duper aktif tergolong anak yang kinestetik jadi sepanjang tidak ada yang mulai dengan mengajak melakukan kegiatan motorik kasar yang sangat disukai kakak macam lari-larian lah, kejar-kejaran muter-muter kelas pasti kakak dapat mengendalikan konsentrasinya.
Miumi tidak mau memaksa dengan usia segini harus begini, temen-temennya begini harus begini miumi cuman pengen itu dari kemauan kakak sendiri. sempet miumi tawarin mau ngga TK lagi secara masih 6 th jg (dengan pertimbangan kekhawatiran miumi diatas itu) kan masih ada temennya yang masih di TK (terutama faqih temen yang lumayan akrab), sempet baca juga usia paling bagus anak masuk SD adalah 7 th ternyata tetep keukeh masuk SD. Miumi juga tidak mau kakak masuk SD hanya gara-gara temen yang mayoritas masuk SD lah, mungkin malu anaknya TK lagi lah (sampai ada temen kakak yang mungkin gara-gara orangtuanya malu di anjurkan TK lagi iya masih tetep sekolah TK tapi pindah sekolah haduh cuman nunggu satu tahun ini ribet amat ya memang secara finansial mampu tapi miumi kasihan ma anaknya, itu sudah termasuk tindakan konyol orang tua buat anaknya), sempet pula miumi ada pembahasan kalau seandainya kakak TK lagi ma uti eh responnya ih...edgar ga naik kelas apa ga malu si ini aja masuk SD si itu aja masuk SD hadeeuh.....ya begitulah pikiran orang tua jaman dulu tapi miumi gamau ambil pusing pikiran orang lain pokoknya harus pengennya kakak sendiri. Dengan bismillah mantab sendiri mau SD.
Masalah tidak hanya berhenti disitu setelah jauh-jauh hari miumi pertimbangkan dengan masuk SD negeri yang paling dekat ternyata konflik pun timbul lagi mbah akung sangat-sangat-sangat tidak setuju masuk SD negeri bukan maksud menjelek-jelekkan SD negeri tapi berkaca dari ayi (yang notabene guru SD negeri juga) sangat-sangat dibuat sibuk dengan adanya laporan ini-itu, kesana-kemari kegiatan luar sekolah antar kota dan desa, ada guru yang sering ijin karena sibuk dengan sambilannya dirumah jadi cuman dikasih tugas terus tinggal pergi dan sesampainya dirumah pun yang diceritakan betapa ribetnya laporan ini-itu dan bla-bla-bla yang berbau hmm...mungkin sedikit keluh kesah jadi yang dipandang mbah akung para gurunya sibuk ini-itu gimana mau urus muridnya yang bener. Tidak mengglobalkan karena tidak semua anak berdampak buruk dengan "urusan gurunya yang ini itu" karena masih ada yang berprestasi walaupun pengajarnya seperti itu. Tapi mbah akung kurang mantab dengan keadaan yang seperti itu dan kekeuh harus masuk SDIT. Secara gambaran sepele saja di SDIT ada pelajaran menghafal al- qur'an (singkirkan komentar "kan belajar di rumah bisa di TPQ bisa dan bla-bla-bla" silahkan saja mungkin itu bisa buat anak yang lain, tapi khusus untuk kakak harus belajar dengan orang lain yang belum dikenal karena bisa mengatasi ke"Ngeyel"annya). Yang komentar paling aneh secara finansial mampu tapi ada yang takut masuk SDIT karena nanti jadi teroris haduuh maak...emaaak... hehehe, jangan mengeluh kalau nanti yang terkejar keduniawiannya, ini miumi bahas yang mampu bahkan berlebih dalam finansial lho ya. Tidak akan habis berdebat mencari pembenaran sekolah mana yang paling unggul karena tujuan para orangtuanya berbeda-beda.

Okelah masuk SDIT tapi konflik yang lain yaitu biaya yang miumi denger masuk SDIT sampai jutaan belum bulanannya sampe ratusan ribu apa ayah-miumi sanggup itu yang utama, anggaplah kenapa miumi sampai tega putus asa menyekolahkan kakak ke SD negeri karena semuanya bener-bener gratis. Karena miumi ke tabrak dengan cicilan rumah yang sampai 60% dari biaya hidup bulanan, itu juga yang jadi kendala para orangtua yang pengen sekali anaknya masuk sekolah berbasis agama bagus tapi finansial pas-pasan. mbah akung sempat pula kepikiran pas kita bikin rumah pas mendekati kakak mau masuk SD gimana ya dengan sekolah nya cucuku mungkin itu yang ada dipikiran Mbah akunge, ternyata perkiraan mbah akung bener pasti mengorbankan sekolah anaknya, miumi sampai nangis cerita pengen masukin kakak ke sekolah agama tapi mungkin ga kesampaian hehehe. Karena rumah pun kebutuhan yang sangat-sangat berhubungan dengan kesehatan fisik dan mental seseorang terutama miumi hehehe. Kan konflik karena nebeng sudah tidak terkendali dan cari kontrakanlah, kos-kosan lah tidak kunjung jodohnya ada saja kendalanya, akhirnya dengan bismillah ayo bangun rumah pasti ada jalannya ternyata dikasih jalan juga alhamdulillah miumi sampe ga percaya dikasih jalan lewat kantor ayah. tapi dengan konsekuensi gimana caranya harus bertahan hidup dengan 40% yang telah dipotong kantor Miumi pasti bisa demi "RUMAH" ayah pasrah apalagi miumi. Tapi doa miumi Alhamdulillah terkabul, Ya Allah ada jalan kalau memang untuk kebaikan, miumi sampai ga percaya bisa masukin kakak ke SDIT terharu pastinya yang jelas masih tidak percaya karena uang masuknya saja 6 juta. Sedangkan untuk bulanannya kita percaya saja Insha Allah bisa karena apa kalau dihitung tetep saja sama. Kita bandingkan pas di TK uang bayar sekolah plus les2nya perbulan kita bulatkan Rp 150.000 sedangkan uang jajan Rp10.000/harix30= Rp300.000 (anggaplah plus uang makan siang cuman buat kakak) jadi totalnya sebulan buat kakak aja -+Rp 450.000, sedangkan Di SDIT perbulannya Rp 475.000  (jajan pagi dan sore sama maem siang) positif nya sampai rumah ga jajan lagi. Buat ayah sebenarnya jatuhnya ya sama aja cuman beda besarnya pas ngasihnya aja kalau TK sehari-sehari jadi mungkin ga kerasa lha ini glodak sebulan langsung segitu hehehe.
Siapa juga yang meragukan sekolah yang mengutamakan agama entah mau jadi apa nanti itu sudah dianggap Taqdir si anak tapi yang utama tetep pondasi agamanya yang baik yang diinginkan, karena ada kajian yang membahas anak "tunggu saja ada waktunya anak diusia-usia galau mencari jati diri akan nakal, memberontak, melenceng, jadi walaupun disaat anak sedang melenceng jadi nakal kalau dari awal pondasinya benar pasti akan kembali menjadi benar. Memang yang diminta orang tua anaknya baiik terus, beneeer terus sampai tua tapi siapa yang tau dengan pergaulan/lingkungan dll anak kita jadi terbawa. Kita menginginkan ahlak yang baik untuk anaknya dan panduan dari qur'an dan hadist siapa yang mau meragukan tinggal penerapannya saja bagaimana ke lingkungan sekitar dirinya. Karena pas puasa miumi sempet ada kejadian mengharu biru yang bikin dada miumi sesek, temen kakak mas nadhif kan kelas 4 di SDIT luqman hakim sore-sore main cari kakak tapi bawa stopmap merah miumi tanya itu apa mas dijawab ini berkas piagam penghargaan dari sekolah setelah miumi baca ternyata piagam penghargaan karena telah selesai menghafal juz 29 dengan nilai baik dan ada tulisan dibawah piagam itu "akan disiapkan jubah dan mahkota untuk kedua orang tuamu kelak disurga jika seorang anak dapat menghafalkan al qur'an", miumi juga pernah baca "satu ayat kamu hafalkan alQur'an, satu rajutan benang telah kamu siapkan untuk jubah dan mahkota sebagai hadiah untuk kedua orang tuamu kelak disurga", miumi penasaran akhirnya miumi pengen denger coba deh mas miumi pengen denger setelah dibaca melelehlah airmata miumi disamping suara mas nadhif yang bagus (cerita ibunya selalu diundang untuk bacain qur'an pas ada acara sekolah, menang juga lomba baca qur'an) haduuh sampai miumi bedigisan nyari hp buat ngrekamin mau diliatin ke ayah sampai miumi masukin juga ke channel youtube miumi padahal miumi pas itu lagi masak buat buka puasa sampai berhenti hehehe segitunya. Dan respon ayah pada saat miumi liatin dengan sedikit komentar dari miumi "ga pengen anaknya kaya gitu yah" dan ayah hanya diam seribu bahasa dibalik diam itu miumi sadar diri ayah pasti pengen tapi ngga sanggup. Ya sudahlah miumi anggap buat adem-adem ati seneng liat ada anak tetangga yang sampai segitu pinternya. Dan ternyata tidak diduga dan disangka-sangka ada yang sampai mengusahakan kakak untuk masuk ke SDIT, miumi sampai kaya mimpi angan-angan miumi dilubuk yang paling dalam akan diwujudkan, semakin percaya pasti ada jalan dari Allah yang tidak terduga dalam keyakinan untuk kebaikan kita.
Kembali lagi ke topik sekolah kakak, setelah berargumen ini-itu dengan jujur miumi bilang ke mbah akung ngga sanggup mbah akung secara sudah minimal sekali dengan penghidupan kita dan juga apa masih bisa daftar secara SDIT yang paling deket rumah itu SDIT luqman hakim juga banyak yang indent jauh-jauh hari. Tanggapan mbah akung nanti insha allah pokoknya gimana caranya mbah akung bantu biaya seandainya ga masuk di SDIT lukman hakim pun diwiradesa juga ada SDIT pasti bisa masuk karena yang mengelola temen mbah akung sendiri. Dan gamanglah ayah dan miumi pada saat itu karena detik-detik masuk malah dibikin bingung dengan pilihan ini-itu. Kita benar-benar pasrah entahlah ngga ngoyo ini itu mengalir gitu aja, Sampai hari H menjelang penyerahan berkas (penyerahan berkas dibuka cuma 2 hari) masuk SD karena miumi sudah jauh-jauh hari pas libur panjang lebaran mempersiapkan dokumen-dokumen untuk masuk SD mbah akung anter kakak pulang karena pas itu kakak masih liburan di tengeng ngabarin jangan masuk negeri ini mbah akung mau antar edgar daftar masuk SDIT. Miumi bener-bener seneng, bingung, entahlah campur aduk sampai mamahnya yanuar temen kakak TK ngampirin miumi pas miumi lagi mandi nanyain wong udah pada kesekolah miumi kok belum kesekolah miumi jawab lagi bingung edgarnya mau dimasukin ke SDIT. 
Dan pas itu mbah akung bilang kalau mau kontrol mata dulu ke rumah sakit dan miumi bilang ke mbah akung "mbah akung kontrol dulu sekiranya udah selesei/antrinya panjang sekali baru disempetin tanya dulu ke lukman haqim seandainya pun ternyata masih ada quotanya kita bertiga (ma adek) nyusul kesekolah, ternyata disela-sela antri yang sangat panjang mbah akung disempetin ke sekolah dan ternyata alhamdulillah quota dari gelombang ke 3 masih ada. Dimulailah tanya ini-itu ternyata total masuk sampai ^ juta (agak shock juga sih maklum orang tua baru hehe) ,sampai ada tes kecil-kecilan buat kakak menyusun puzzle angka alhamdulillah bisa sampai tahap interview juga anak sendiri, miumi sendiri dan ustadzahnya kasih tau semisal lolos akan diberitahu by phone tapi belum ada kepastian kapan hari pengumuman lolos/tidaknya jadi agak gamang lagi.
Sampai hari ke dua pagi belum ada kabar miumi sempet bilang ke ayah apa edgar buat cadangan semisal ga ketrima di SDIT daftar ulang ke SD negeri yo yah tapi kata ayah ga usah soalnya kasihan juga quota SD kan terbatas juga semisal edgar sudah masuk quota SD ada yang daftar nanti mengurangi yang mau masuk ya udah deh miumi nurut aja. Dan ga lama dapat telp dari mbah akung katanya "mending gausah masuk ke luqman hakim masuk







Tidak ada komentar:

Posting Komentar